Luas Sawah Saja Tidak Cukup untuk Menentukan Pompa Irigasi
Banyak pemilik lahan dan kelompok tani menganggap luas sawah sebagai faktor utama dalam menentukan kapasitas pompa irigasi. Mereka sering berasumsi bahwa satu pompa dengan kapasitas tertentu mampu melayani seluruh lahan dengan luas yang sama. Padahal, setiap lahan memiliki karakteristik dan kebutuhan air yang berbeda. Jenis tanaman, kondisi tanah, sumber air, hingga metode irigasi turut menentukan kapasitas pompa yang tepat.
Kesalahan dalam memilih pompa dapat menimbulkan berbagai masalah. Pompa dengan kapasitas terlalu kecil tidak mampu memenuhi kebutuhan air tanaman, terutama ketika tanaman memasuki fase pertumbuhan yang membutuhkan banyak air. Sebaliknya, pompa dengan kapasitas terlalu besar dapat meningkatkan biaya investasi dan membuat sistem bekerja kurang efisien. Oleh karena itu, petani perlu mempertimbangkan berbagai faktor teknis sebelum menentukan spesifikasi pompa irigasi.
Pemahaman mengenai hubungan luas lahan, jenis tanaman, kebutuhan debit air, dan teknologi pemompaan membantu petani membangun sistem irigasi yang lebih efisien. Pendekatan ini juga penting bagi petani yang ingin menggunakan Pompa Air Tenaga Surya (PATS) untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan biaya operasional dalam jangka panjang.
Mengapa Luas Lahan Saja Tidak Cukup untuk Menentukan Pompa Irigasi?
Luas lahan menunjukkan besarnya area yang perlu mendapatkan air, tetapi angka tersebut belum menggambarkan kebutuhan air secara keseluruhan. Dalam perencanaan irigasi, petani juga perlu memperhitungkan jenis tanaman, kondisi cuaca, karakteristik tanah, serta metode pemberian air.
Perbedaan Kebutuhan Air Berdasarkan Jenis Tanaman
Tanaman padi membutuhkan pengelolaan air yang berbeda dari jagung, kedelai, dan berbagai tanaman hortikultura. Petani umumnya menggunakan metode penggenangan pada sawah, sedangkan tanaman palawija lebih sering membutuhkan pengairan sesuai kondisi kelembapan tanah. Perbedaan metode tersebut menghasilkan kebutuhan debit air yang berbeda meskipun luas lahannya sama.
Dokumen Kriteria Perencanaan Bagian Jaringan Irigasi (KP-01) dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membahas berbagai komponen dalam perencanaan kebutuhan air irigasi. Petani perlu memahami bahwa kebutuhan air di tingkat lahan tidak selalu sama dengan kebutuhan air pada sumber pengambilan. Kehilangan air selama penyaluran, kondisi jaringan, dan kebutuhan pengolahan tanah turut memengaruhi jumlah air yang harus tersedia.
Karena itu, petani sebaiknya tidak langsung menggunakan satu angka kebutuhan air untuk seluruh jenis tanaman. Perencana perlu menyesuaikan perhitungan dengan kondisi lahan dan pola tanam agar sistem irigasi mampu memenuhi kebutuhan tanaman tanpa membuang air secara berlebihan.
Kondisi Tanah dan Sumber Air
Selain jenis tanaman, karakteristik tanah turut memengaruhi kebutuhan air. Tanah berpasir cenderung meloloskan air lebih cepat dibandingkan tanah dengan kandungan lempung yang tinggi. Akibatnya, lahan berpasir mungkin membutuhkan pengairan lebih sering, sedangkan tanah yang mampu menahan air dapat mempertahankan kelembapan lebih lama.
Sumber air juga menentukan karakteristik pompa yang perlu petani gunakan. Pompa yang mengambil air dari sungai atau saluran irigasi menghadapi kondisi pengambilan yang berbeda dari pompa yang mengangkat air melalui sumur bor dalam. Kedalaman sumber air, elevasi lahan, panjang pipa, diameter pipa, serta jumlah belokan dapat memengaruhi kebutuhan tekanan dan daya pompa.
Perencana perlu menghitung total tinggi angkat atau total dynamic head (TDH), yaitu gabungan tinggi angkat vertikal dan kehilangan tekanan selama air mengalir melalui jaringan pipa. Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, petani dapat memilih pompa yang sesuai dengan kondisi operasional sebenarnya.
Risiko Salah Memilih Kapasitas Pompa
Pompa yang terlalu kecil dapat membuat distribusi air berlangsung lebih lama daripada waktu yang tersedia. Kondisi tersebut berisiko mengganggu jadwal pengairan, khususnya ketika tanaman membutuhkan air dalam jumlah besar. Sementara itu, pompa yang terlalu besar belum tentu menghasilkan efisiensi terbaik karena kebutuhan daya, biaya pembelian, dan kapasitas distribusi harus tetap seimbang.
Perencanaan yang tepat membantu petani menyesuaikan kapasitas pompa dengan kebutuhan debit dan tinggi angkat. Pendekatan ini juga menjadi langkah awal sebelum petani memilih sistem Pompa Air Tenaga Surya yang sesuai dengan kondisi lahan.
Bagaimana Cara Menghitung Kebutuhan Debit Air Berdasarkan Jenis Tanaman?
Petani perlu mengetahui volume air yang dibutuhkan setiap hari sebelum menentukan kapasitas pompa. Perhitungan tersebut dapat dimulai dengan memperkirakan kebutuhan air tanaman, luas lahan, efisiensi penyaluran, serta waktu operasi pompa yang tersedia.
Menghitung Volume Air Harian
Sebagai gambaran awal, lahan padi seluas satu hektar dapat membutuhkan volume air yang besar, terutama ketika petani menerapkan metode penggenangan. Sebaliknya, lahan hortikultura yang menggunakan irigasi tetes dapat mengatur pemberian air secara lebih terarah pada area perakaran tanaman.
Angka kebutuhan air harian sekitar 80–120 meter kubik untuk satu hektar sawah dan 15–25 meter kubik untuk satu hektar hortikultura dengan irigasi tetes dapat digunakan sebagai ilustrasi awal dalam menyusun perencanaan. Namun, angka tersebut bukan standar universal. Kondisi cuaca, jenis tanaman, tahap pertumbuhan, tekstur tanah, dan efisiensi sistem dapat menghasilkan kebutuhan yang berbeda.
Petani perlu memeriksa kebutuhan air aktual di lokasi sebelum menggunakan angka estimasi tersebut untuk menentukan kapasitas pompa. Laporan Solarizing the Agriculture Sector: Potentials and Challenges of Solar Water Pumps in Indonesia dari Institute for Essential Services Reform (IESR) juga dapat menjadi salah satu bahan bacaan untuk memahami peluang dan tantangan penggunaan pompa air tenaga surya di sektor pertanian.
Menghitung Debit dan Waktu Operasi
Setelah mengetahui volume air harian, perencana dapat menghitung debit yang harus dihasilkan pompa. Rumus sederhananya adalah:
Debit (m³/jam) = Volume air harian (m³) ÷ Waktu operasi (jam)
Sebagai contoh, apabila lahan membutuhkan 100 m³ air per hari dan pompa beroperasi selama lima jam, sistem harus menyediakan debit rata-rata 20 m³ per jam. Angka ini belum memperhitungkan kehilangan air dan perubahan kinerja pompa akibat tinggi angkat.
Pada sistem tenaga surya, waktu operasi efektif bergantung pada intensitas radiasi matahari, kondisi cuaca, orientasi panel, serta karakteristik perangkat. Karena itu, perencana tidak cukup hanya membagi kebutuhan air dengan perkiraan lama penyinaran. Mereka juga harus memastikan bahwa pompa mampu menghasilkan debit yang dibutuhkan pada kondisi tinggi angkat yang sebenarnya.
Menghemat Air dengan Irigasi Modern
Petani dapat mengurangi kebutuhan air melalui penerapan metode irigasi yang sesuai dengan jenis tanaman. Irigasi tetes mengalirkan air secara terarah ke area perakaran, sedangkan irigasi curah menyebarkan air melalui pancaran yang menyerupai hujan. Kedua metode tersebut memiliki karakteristik penggunaan air dan kebutuhan tekanan yang berbeda.
Irigasi tetes dapat membantu petani mengurangi kehilangan air akibat penguapan dan aliran permukaan jika mereka merancang serta merawat sistem dengan benar. Namun, metode ini memerlukan penyaringan air dan pengelolaan jaringan agar emiter tidak tersumbat. Sementara itu, irigasi curah membutuhkan tekanan kerja yang sesuai agar distribusi air berlangsung merata.
Dengan memilih metode irigasi yang tepat, petani dapat mengatur volume air secara lebih terukur. Penghematan air juga berpotensi menurunkan kebutuhan energi untuk pemompaan, meskipun perencana tetap harus menghitung tekanan dan debit yang diperlukan setiap metode.
Memperhatikan Fase Pertumbuhan Tanaman
Kebutuhan air tanaman berubah sepanjang musim tanam. Tanaman padi, misalnya, memerlukan pengelolaan air yang sesuai dengan fase pertumbuhan dan sistem budidayanya. Pada beberapa fase, kekurangan air dapat mengganggu perkembangan tanaman dan menurunkan hasil panen.
Petani dapat mengatur jadwal pengairan dengan memantau kelembapan tanah, kondisi cuaca, serta kebutuhan tanaman. Sistem monitoring jarak jauh juga dapat membantu petani memeriksa status pompa dan volume air yang dihasilkan, jika perangkat mendukung fitur tersebut.
Pemantauan rutin memungkinkan petani menyesuaikan waktu operasi dengan kebutuhan aktual. Dengan begitu, mereka dapat mengurangi pemborosan air dan energi sekaligus menjaga kondisi lahan tetap sesuai untuk pertumbuhan tanaman.
Berapa Kapasitas Pompa yang Dibutuhkan untuk Berbagai Skala Lahan?
Kapasitas pompa harus mengikuti kebutuhan debit, tinggi angkat, dan target waktu distribusi air. Luas lahan tetap menjadi faktor penting, tetapi perencana perlu menggabungkannya dengan kondisi sumber air dan metode irigasi.
Pemerintah Indonesia juga mendorong pemanfaatan teknologi pemompaan untuk membantu meningkatkan ketersediaan air di wilayah pertanian yang menghadapi keterbatasan sumber air. Pada lahan tadah hujan, ketersediaan air yang lebih terjamin berpotensi membantu petani mengatur pola tanam dan meningkatkan indeks pertanaman. Namun, keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada kondisi sumber air, kelayakan teknis, pengelolaan kelompok tani, dan pemeliharaan sistem.
Tabel Estimasi Kebutuhan Sistem Pompa
Tabel berikut menyajikan ilustrasi awal untuk membantu petani memahami perbedaan kebutuhan air berdasarkan luas lahan dan metode irigasi. Nilai kapasitas PATS di dalam tabel bukan spesifikasi baku untuk semua lokasi. Perencana harus memvalidasi kebutuhan daya berdasarkan debit, tinggi angkat, radiasi matahari, efisiensi pompa, dan lama operasi.
| Luas Lahan | Jenis Tanaman atau Sistem | Estimasi Volume Air Harian | Ilustrasi Awal Daya Panel Surya |
|---|---|---|---|
| 1 hektar | Padi dengan penggenangan | 80–120 m³ | 2,2–3,0 kWp |
| 1 hektar | Hortikultura dengan irigasi tetes | 15–25 m³ | 0,6–1,2 kWp |
| 1 hektar | Palawija | 30–50 m³ | 1,2–2,0 kWp |
| 5–10 hektar | Sistem komunal untuk padi atau palawija | 400–1.000 m³ | 5,5–11,0 kWp |
| 10–25 hektar | Hamparan kelompok tani | Lebih dari 1.000 m³ | Sesuai hasil desain teknis |
Catatan penting: angka volume air dan daya panel di atas merupakan estimasi ilustratif, bukan pasangan spesifikasi yang otomatis cocok untuk setiap lahan. Kebutuhan air tidak selalu meningkat secara linear berdasarkan luas lahan. Perencana perlu menghitung kebutuhan tiap petak, jadwal distribusi, tinggi angkat, serta kemungkinan penggunaan tandon penampung sebelum menetapkan kapasitas akhir.
Perencanaan untuk Sistem Irigasi Komunal
Kelompok tani yang mengelola lahan seluas lima hingga sepuluh hektar dapat mempertimbangkan sistem pemompaan komunal. Dalam konfigurasi tertentu, pompa utama mengalirkan air ke tandon atau reservoir, kemudian jaringan distribusi menyalurkan air ke petak-petak lahan. Sistem tersebut dapat membantu kelompok tani mengatur jadwal pemakaian air secara bergantian.
Namun, desain komunal memerlukan perhitungan yang lebih menyeluruh. Perencana perlu mempertimbangkan kebutuhan puncak setiap petak, kapasitas tandon, diameter pipa utama, kehilangan tekanan, dan pembagian waktu operasi. Jika seluruh petani membutuhkan air secara bersamaan, sistem harus mampu memenuhi debit puncak tersebut atau menerapkan jadwal distribusi yang disepakati bersama.
Kelompok tani yang ingin mengajukan bantuan pemerintah juga perlu memeriksa pedoman program yang berlaku pada tahun pengajuan. Persyaratan luas hamparan, status kelompok tani, kondisi sumber air, dokumen administrasi, dan kelayakan teknis dapat berubah sesuai kebijakan. Karena itu, kelompok tani sebaiknya tidak mengandalkan satu angka luas lahan tanpa memeriksa ketentuan resmi terbaru.
Mengapa Pompa LORENTZ Menjadi Salah Satu Pilihan untuk Lahan Pertanian?

Pemilihan pompa untuk lahan pertanian tidak cukup mengandalkan merek atau daya motor. Petani perlu memastikan bahwa perangkat mampu memenuhi kebutuhan debit dan tinggi angkat, menggunakan energi secara efisien, serta mendukung perawatan jangka panjang. Pompa tenaga surya dapat menjadi pilihan untuk lokasi yang sulit menjangkau jaringan listrik atau memiliki biaya operasional bahan bakar yang tinggi.
LORENTZ merupakan salah satu merek yang menyediakan sistem pompa air tenaga surya untuk berbagai kebutuhan, termasuk irigasi pertanian. Kesesuaian setiap produk tetap bergantung pada karakteristik sumber air dan hasil perhitungan teknis. Oleh karena itu, petani perlu memeriksa kurva kinerja, spesifikasi pengontrol, kemampuan motor, dan dukungan layanan sebelum menentukan seri pompa.
Teknologi MPPT dan Pemanfaatan Energi Surya
Sistem pompa tenaga surya dapat menggunakan pengontrol dengan teknologi Maximum Power Point Tracking (MPPT). Teknologi ini membantu pengontrol menyesuaikan titik kerja panel surya agar sistem dapat memanfaatkan daya yang tersedia secara optimal dalam kondisi radiasi tertentu.
Ketika matahari tertutup awan, panel surya menghasilkan daya lebih rendah. Jika daya yang tersedia masih memenuhi batas operasional perangkat, pompa mungkin tetap bekerja dengan debit yang menurun. Namun, ketika intensitas cahaya terlalu rendah, pompa dapat berhenti sementara. Karena itu, teknologi MPPT tidak menjamin pompa selalu menghasilkan debit yang sama saat cuaca berubah.
Petani perlu memahami karakteristik tersebut ketika menyusun jadwal pengairan. Jika lahan memerlukan pasokan air yang konsisten, mereka dapat mempertimbangkan tandon, pengaturan jadwal pemompaan, atau sumber energi cadangan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini membantu mengurangi risiko kekurangan air ketika radiasi matahari tidak mencukupi.
Perencanaan Digital dengan LORENTZ COMPASS
Perencanaan digital dapat membantu penyedia sistem menentukan kombinasi pompa dan panel surya yang sesuai. LORENTZ COMPASS merupakan perangkat lunak yang mendukung proses perencanaan sistem pompa tenaga surya. Pengguna dapat memanfaatkan data lokasi dan parameter teknis untuk mengevaluasi pilihan konfigurasi.
Dalam proses perencanaan, teknisi perlu memasukkan informasi seperti lokasi proyek, kebutuhan volume air, tinggi angkat, kondisi sumber air, dan karakteristik jaringan distribusi. Data radiasi matahari setempat juga berperan dalam memperkirakan kinerja sistem sepanjang tahun. Hasil perhitungan membantu teknisi membandingkan beberapa konfigurasi sebelum merekomendasikan perangkat.
Meskipun perangkat lunak mempermudah simulasi, hasilnya tetap bergantung pada ketepatan data masukan. Kesalahan dalam mengukur kedalaman sumber air atau memperkirakan kehilangan tekanan dapat menghasilkan rekomendasi yang tidak sesuai. Karena itu, survei lokasi dan verifikasi data lapangan tetap menjadi bagian penting dalam proses desain.
Baca juga: https://suryaqua.com/2026/06/04/investasi-pompa-surya-untuk-petani-cerdas-masa-kini/
Menghitung Biaya Investasi dan Penghematan
Pompa tenaga surya membutuhkan investasi awal untuk membeli pompa, panel surya, pengontrol, struktur penyangga, kabel, pipa, dan perlengkapan pendukung. Pada beberapa proyek, petani juga perlu menyiapkan biaya pengeboran sumur, pembangunan tandon, serta pemasangan jaringan distribusi.
Meskipun biaya awalnya dapat lebih tinggi daripada pompa berbahan bakar diesel, sistem tenaga surya berpotensi menekan pengeluaran bahan bakar selama masa operasional. Petani tetap perlu menyediakan anggaran untuk pembersihan panel, pemeriksaan kabel, pemeliharaan pompa, dan penggantian komponen yang mencapai akhir masa pakainya.
Perhitungan payback period atau periode pengembalian modal harus menggunakan data biaya yang sesuai dengan lokasi proyek. Petani dapat membandingkan total investasi dengan penghematan bersih tahunan setelah memperhitungkan perawatan, biaya penggantian komponen, dan biaya operasional lainnya. Tanpa data tersebut, perkiraan waktu pengembalian modal hanya memberikan gambaran kasar dan tidak menjamin hasil yang sama di setiap lokasi.
Monitoring untuk Menjaga Kinerja Sistem
Sistem monitoring dapat membantu petani memeriksa kondisi operasional pompa. Bergantung pada perangkat yang digunakan, sistem dapat menyediakan informasi mengenai status kerja, daya, gangguan, atau volume air yang dipompa. Teknisi kemudian dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengevaluasi kinerja dan merencanakan pemeliharaan.
Monitoring jarak jauh juga dapat membantu pengelola kelompok tani memantau penggunaan air dan mengatur jadwal distribusi. Namun, fitur yang tersedia berbeda menurut model pengontrol dan konfigurasi perangkat. Petani perlu memeriksa spesifikasi produk untuk mengetahui apakah sistem yang dipilih mendukung pemantauan melalui smartphone atau memerlukan perangkat tambahan.
Dengan pemilihan perangkat yang sesuai dan pemantauan berkala, petani dapat meningkatkan keandalan sistem irigasi sekaligus mengurangi risiko gangguan operasional.
Langkah Menentukan Pompa Irigasi Sebelum Membeli
Agar tidak hanya mengandalkan luas lahan, petani dapat mengikuti langkah-langkah berikut sebelum membeli pompa.
- Identifikasi jenis tanaman. Tentukan komoditas, luas tanam, pola tanam, serta fase pertumbuhan yang membutuhkan pasokan air.
- Hitung kebutuhan air harian. Gunakan data kebutuhan air yang relevan dengan kondisi tanah, cuaca, dan metode irigasi.
- Periksa sumber air. Ukur kedalaman air, perubahan ketersediaan air, dan jarak sumber air menuju lahan.
- Hitung tinggi angkat total. Masukkan perbedaan elevasi serta kehilangan tekanan pada pipa dan perlengkapan distribusi.
- Tentukan waktu operasi. Sesuaikan target volume air dengan jam operasi yang realistis, terutama untuk sistem tenaga surya.
- Pilih pompa dan panel. Gunakan kurva kinerja dan hasil perhitungan teknis untuk menentukan kombinasi perangkat.
- Hitung biaya sepanjang umur sistem. Bandingkan investasi awal, biaya energi, pemeliharaan, dan penggantian komponen.
- Lakukan survei dan verifikasi. Mintalah teknisi memeriksa kondisi lokasi sebelum menetapkan spesifikasi akhir.
Langkah tersebut membantu petani membuat keputusan berdasarkan kebutuhan aktual. Dengan demikian, mereka tidak perlu membeli pompa hanya karena kapasitasnya terlihat besar atau karena orang lain menggunakan model yang sama.
Baca juga: https://suryaqua.com/2026/05/29/akses-air-bersih-mudah-dengan-teknologi-lorentz/
FAQ
Mengapa jenis tanaman memengaruhi pemilihan kapasitas pompa LORENTZ?
Setiap tanaman memiliki kebutuhan air yang berbeda. Padi dengan metode penggenangan umumnya memerlukan pengelolaan air yang berbeda dari jagung, kedelai, atau hortikultura dengan irigasi tetes. Perbedaan tersebut memengaruhi debit dan volume air harian yang perlu disediakan pompa. Petani harus menggabungkan data jenis tanaman dengan tinggi angkat dan kondisi sumber air sebelum memilih produk LORENTZ.
Bagaimana cara memastikan kapasitas pompa sesuai dengan kebutuhan lahan?
Mulailah dengan menghitung kebutuhan air harian, debit yang diperlukan, dan tinggi angkat total. Setelah itu, periksa kurva kinerja pompa serta kemampuan sistem panel surya pada kondisi radiasi setempat. Teknisi dapat menggunakan perangkat lunak perencanaan seperti LORENTZ COMPASS untuk membantu mengevaluasi konfigurasi. Namun, hasil perhitungan tetap memerlukan data lapangan yang akurat.
Berapa lama periode pengembalian modal pompa tenaga surya?
Periode pengembalian modal berbeda untuk setiap proyek. Faktor penentunya meliputi harga perangkat, biaya pemasangan, pengeluaran bahan bakar yang dapat dihindari, biaya perawatan, serta jumlah air yang dibutuhkan. Petani sebaiknya membandingkan seluruh biaya selama masa penggunaan sistem daripada hanya melihat harga pembelian awal. Perhitungan tersebut memberikan dasar yang lebih realistis untuk memperkirakan waktu pengembalian investasi.
Apakah pompa tenaga surya dapat melayani kelompok tani dengan lahan lebih dari 10 hektar?
Sistem pompa tenaga surya dapat mendukung irigasi komunal untuk hamparan luas jika perencana memilih konfigurasi yang sesuai. Desainnya perlu mempertimbangkan debit total, tinggi angkat, jadwal pembagian air, kapasitas tandon, dan jaringan pipa. Untuk menentukan apakah satu pompa atau beberapa unit lebih tepat, kelompok tani perlu melakukan survei dan perhitungan teknis terlebih dahulu.
Apakah pompa LORENTZ tetap bekerja ketika cuaca mendung?
Pompa tenaga surya dapat tetap bekerja ketika cuaca mendung selama daya yang dihasilkan panel masih memenuhi kebutuhan minimum perangkat. Namun, debit pompa dapat menurun ketika radiasi matahari berkurang, dan pompa dapat berhenti jika daya tidak mencukupi. Teknologi MPPT membantu pemanfaatan daya yang tersedia, tetapi tidak menghilangkan ketergantungan sistem pada energi matahari.
Apakah luas lahan dapat langsung menentukan daya panel surya?
Tidak. Luas lahan membantu memperkirakan kebutuhan air, tetapi daya panel juga bergantung pada debit target, tinggi angkat, efisiensi pompa, radiasi matahari, dan waktu operasi. Dua lahan dengan luas yang sama dapat memerlukan konfigurasi berbeda karena kondisi sumber air dan metode irigasinya tidak sama.
Konsultasikan Kebutuhan Pompa Irigasi Anda
Menentukan pompa irigasi memerlukan perhitungan yang mempertimbangkan luas lahan, jenis tanaman, volume air harian, kondisi sumber air, dan metode distribusi. Dengan perencanaan yang tepat, petani dapat memilih sistem yang sesuai tanpa mengeluarkan biaya berlebihan untuk kapasitas yang tidak diperlukan.
Tim Suryaqua dapat membantu Anda mendiskusikan kebutuhan sistem pompa air tenaga surya dan mengevaluasi kondisi awal lokasi proyek.
- WhatsApp: +62 811-831-333
- Website: suryaqua.com
- Email: marketing@suryaqua.com
- Alamat: Pergudangan Tanrise B25, Jalan Sruni, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
Catatan: Angka kebutuhan air, kapasitas pompa, daya panel surya, harga, dan estimasi penghematan dalam artikel ini bersifat ilustratif. Kondisi aktual dapat menghasilkan kebutuhan yang berbeda. Mintalah perhitungan teknis berdasarkan data lokasi sebelum membeli atau memasang sistem.
Referensi
- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kriteria Perencanaan Bagian Jaringan Irigasi (KP-01). 2013. https://sda.pu.go.id/balai/ws_cisadane/wp-content/uploads/2021/04/KP-01-Perencanaan-Jaringan-Irigasi.pdf
- Institute for Essential Services Reform (IESR). Solarizing the Agriculture Sector: Potentials and Challenges of Solar Water Pumps in Indonesia. 2023. https://iesr.or.id/pustaka/solarizing-the-agriculture-sector-potentials-and-challenges-of-solar-water-pumps-in-indonesia
- Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Pedoman Teknis Kegiatan Irigasi Perpompaan dan Perpipaan Tahun Anggaran 2023. 2023. https://psp.pertanian.go.id/storage/pedoman/May2023/Pedum%20Irigasi%20Perpompaan%20dan%20Perpipaan%20TA.%202023.pdf
- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Direktorat Jenderal EBTKE. Pemanfaatan Energi Surya untuk Sektor Pertanian (PATS). 2022. https://ebtke.esdm.go.id/post/2022/11/14/3321/pemanfaatan.energi.surya.untuk.sektor.pertanian.pats
- International Renewable Energy Agency (IRENA). Solar Pumping for Irrigation: Improving Livelihoods and Sustainability. 2016. https://www.irena.org/publications/2016/Jun/Solar-Pumping-for-Irrigation-Improving-livelihoods-and-sustainability
Baca juga: https://suryaqua.com/2026/08/09/kesalahan-memilih-pompa-tenaga-surya-tanpa-rencana-jangka-panjang/

Sebagai perusahaan yang mendukung penghematan energi, maka Kami menawarkan solusi kepada anda yang memiliki tagihan listrik sampai jutaan rupiah terkait penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Ada banyak Paket PLTS untuk Rumah yang dapat anda pilih sesuai dengan kebutuhan.
MORE ABOUT US