Investasi pada sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sering kali hanya terfokus pada efisiensi panel surya atau kapasitas inverter, padahal terdapat satu komponen “tulang punggung” yang secara signifikan menentukan keberlanjutan investasi dan total biaya pengeluaran modal (CAPEX). Struktur penyangga atau mounting bukan sekadar rak besi, melainkan komponen yang menjamin keamanan modul selama puluhan tahun di bawah cuaca ekstrem Indonesia yang tropis dan korosif. Memahami struktur biaya mounting menjadi sangat krusial bagi investor maupun pemilik bangunan, mengingat fluktuasi harga material logam dan standar teknis yang semakin ketat di pasar domestik.

Mengapa Harga Mounting Panel Surya Menjadi Faktor Krusial dalam Investasi PLTS?

Banyak calon pengguna PLTS terkejut saat mengetahui bahwa porsi anggaran untuk struktur mounting tidaklah kecil. Berdasarkan laporan dari Institute for Essential Services Reform atau IESR (2024), komponen perangkat keras sistem pendukung (BOS hardware), yang di dalamnya mencakup mounting, berkontribusi sebesar 20% hingga 32% dari total biaya instalasi PLTS di Indonesia. Angka ini menunjukkan bahwa kesalahan dalam memilih material atau desain mounting tidak hanya berisiko pada kekuatan fisik, tetapi juga dapat menyebabkan pembengkakan anggaran yang tidak terduga.

Selain biaya instalasi langsung, biaya Balance of System (BOS) non-inverter, termasuk di dalamnya struktur penyangga, menyumbang rata-rata 19% dari total biaya CAPEX untuk PLTS skala utilitas menurut data IRENA (2023). Hal ini menegaskan bahwa efisiensi biaya dalam sebuah proyek PLTS sangat bergantung pada bagaimana struktur penyangga ini direncanakan. Jika struktur dirancang terlalu berlebihan (over-engineered), biaya akan membengkak. Sebaliknya, jika dirancang terlalu ringkih, risiko kerusakan akibat beban angin dapat menghancurkan aset panel surya yang jauh lebih mahal harganya.

Kestabilan harga mounting di pasar Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh indeks harga komoditas global. Menurut laporan Badan Pusat Statistik atau BPS (2026), Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) untuk bahan konstruksi logam berstruktur, yang merupakan bahan baku utama mounting, berada di level 116,59 per Agustus 2026. Kenaikan indeks ini mencerminkan adanya tekanan harga pada material baja dan aluminium di tingkat produsen. Oleh karena itu, bagi mereka yang sedang melakukan konsultasi sistem PLTS, sangat disarankan untuk memperhatikan jadwal pengadaan material guna menghindari puncak kenaikan harga logam konstruksi.

Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan Harga Mounting di Pasar?

Perbedaan harga mounting di pasar tidak hanya disebabkan oleh merek, tetapi lebih pada komposisi material dan kepatuhan terhadap regulasi industri nasional. Salah satu faktor utama adalah bobot Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (2022), penyangga modul (mounting) menyumbang bobot 6,30% untuk sistem PLTS Tersebar hingga 10,80% untuk PLTS On-grid dalam struktur biaya TKDN. Hal ini menjadikan mounting sebagai komponen strategis bagi pengembang proyek yang menyasar skema insentif pemerintah atau proyek milik PLN.

Tingginya capaian TKDN untuk produk struktur penyangga di Indonesia, yang menurut Kementerian Perindustrian (2024) telah mencapai rata-rata 69,23% dengan nilai tertinggi hingga 71,74%, memberikan keuntungan tersendiri. Produk lokal kini memiliki daya saing harga yang lebih kompetitif dibandingkan komponen impor, karena biaya logistik yang lebih rendah dan kesiapan industri baja serta aluminium dalam negeri yang sangat mapan. Hal ini memposisikan struktur penyangga sebagai komponen dengan kesiapan industri lokal tertinggi dalam ekosistem energi terbarukan di Indonesia.

Faktor teknis lain yang memengaruhi harga adalah efisiensi dari modul surya itu sendiri. Penggunaan teknologi terbaru seperti modul surya tipe-N (N-type) yang memiliki efisiensi lebih tinggi ternyata berdampak langsung pada penurunan biaya struktur. Berdasarkan analisis dari BRIN (2024), peningkatan efisiensi modul di atas 20% mampu menurunkan biaya struktur penyangga sebesar 8% hingga 10%. Hal ini terjadi karena jumlah modul yang dibutuhkan untuk mencapai kapasitas daya yang sama menjadi lebih sedikit, sehingga luas area pemasangan dan material aluminium atau profil baja yang diperlukan otomatis berkurang. Inilah alasan mengapa pemilihan panel surya yang efisien harus dilihat secara holistik bersama dengan desain mounting-nya.

Baca Juga :  Mengenal Merk Pompa Air: Dari Jenis hingga Tips Memilihnya

Baca Juga : Perhitungan Harga dan Efisiensi Tambahan Panel Surya Bifacial

Material dan Ketahanan Korosi

Harga juga ditentukan oleh jenis perlindungan anti karat yang digunakan. Di pasar Indonesia, terdapat dua pilihan utama: Aluminium dan Baja Galvani (Hot-Dip Galvanized). Tren per tahun 2026 menunjukkan bahwa material aluminium mengalami kenaikan indeks biaya yang lebih tinggi dibandingkan produk baja. Namun, aluminium tetap diminati untuk instalasi atap karena bobotnya yang ringan dan ketahanan alaminya terhadap korosi tanpa perlu perawatan tambahan yang intensif.

Bagaimana Perbandingan Biaya Antara Sistem Mounting Atap, Tanah, dan Terapung?

Penempatan panel surya sangat menentukan jenis struktur yang digunakan, yang pada gilirannya akan mendikte total biaya investasi. Untuk PLTS Atap (Rooftop PV), investasinya rata-rata berkisar antara Rp15 juta hingga Rp17 juta per kWp menurut data Kementerian ESDM (2024). Dalam struktur biaya ini, mounting menjadi salah satu dari empat komponen biaya utama karena membutuhkan presisi tinggi agar tidak merusak struktur atap bangunan yang sudah ada.

Berbeda dengan sistem di tanah (Ground-mounted) yang memerlukan fondasi beton atau tiang pancang, sistem PLTS Terapung (Floating PV) memiliki kompleksitas biaya yang jauh lebih tinggi. World Bank (2024) melaporkan bahwa struktur penyangga untuk PLTS Terapung memiliki biaya sekitar $10 sen/Wp lebih tinggi dibandingkan dengan sistem ground-mounted. Biaya tambahan ini berasal dari kebutuhan akan material pengapung (floater), sistem penjangkaran (mooring), dan material tahan karat yang lebih spesifik untuk lingkungan dengan kelembapan tinggi dan paparan air terus-menerus.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut adalah tabel perbandingan karakteristik dan estimasi dampak biaya berdasarkan jenis mounting yang umum digunakan di Indonesia:

Jenis Mounting Material Utama Lokasi Pemasangan Dampak Biaya (Relatif) Keunggulan Utama
Roof-Mounted Aluminium AL6005-T5 Atap Gedung/Rumah Sedang Instalasi cepat, hemat lahan, bobot ringan.
Ground-Mounted Hot-Dip Galvanized Steel Lahan Terbuka/Tanah Rendah – Sedang Sudut kemiringan optimal, mudah dibersihkan.
Floating Mounting HDPE (High-Density Polyethylene) Waduk/Danau/Bekas Tambang Tinggi Efisiensi suhu (cooling effect), tanpa lahan darat.
Pole-Mounted Baja Karbon Lapis Seng Area Terpencil/Irigasi Sedang Cocok untuk instalasi panel surya untuk irigasi, tahan banjir.

Dalam memilih di antara ketiga sistem tersebut, pemilik proyek tidak hanya harus mempertimbangkan harga awal (upfront cost), tetapi juga biaya pemeliharaan jangka panjang. Misalnya, pada ground-mounted, biaya pembersihan lahan secara berkala harus masuk dalam kalkulasi, sementara pada floating PV, pemeriksaan berkala pada sistem jangkar menjadi keharusan teknis agar sistem tidak bergeser saat terjadi arus air atau angin kencang.

Mengapa Sistem Mounting LORENTZ Menjadi Solusi Terbaik untuk Efisiensi Jangka Panjang?

Di tengah fluktuasi harga logam dan tuntutan efisiensi, memilih sistem mounting yang sudah teruji secara global namun tetap patuh pada regulasi lokal menjadi strategi investasi yang cerdas. LORENTZ, sebagai pemimpin pasar dalam teknologi pompa air tenaga surya, menyediakan solusi integrasi mounting yang dioptimalkan secara teknis untuk menghadapi tantangan iklim di Indonesia. Fokus utama dari desain struktur LORENTZ adalah minimalisasi material tanpa mengurangi kekuatan mekanis, yang sejalan dengan temuan BRIN (2024) bahwa desain optimal untuk modul efisiensi tinggi mampu memangkas biaya struktur hingga 8-10%.

Keunggulan utama dari pendekatan sistem ini adalah kepatuhan terhadap regulasi TKDN terbaru. Dengan kesiapan industri lokal yang mencapai puncaknya pada komponen penyangga, penggunaan sistem yang memiliki sertifikasi TKDN tinggi mempermudah integrasi dalam proyek-proyek pemerintah maupun PLN yang semakin memperketat penggunaan komponen dalam negeri. Hal ini memberikan jaminan bagi pengembang proyek bahwa sistem yang mereka bangun tidak akan terkendala masalah regulasi di masa depan.

Selain itu, material yang digunakan dalam ekosistem LORENTZ dirancang khusus untuk memiliki ketahanan korosi yang superior. Mengingat kenaikan IHPB logam konstruksi yang mencapai level 116,59 pada Agustus 2026 menurut BPS, investasi pada material berkualitas tinggi di awal akan meminimalisir risiko biaya maintenance atau penggantian prematur akibat karat. Struktur yang awet berarti Anda tidak perlu mengalokasikan anggaran tambahan untuk penggantian rak atau baut yang keropos sebelum masa pakai panel surya berakhir (biasanya 25 tahun).

Baca Juga :  Pompa Surya Dukung Smart City Sumatera

Efisiensi material juga dicapai melalui tren penggunaan modul tipe-N yang lebih ringan namun bertenaga besar. Dengan sistem LORENTZ, jumlah material profil baja atau aluminium yang dibutuhkan per megawatt (MW) terpasang dapat ditekan secara signifikan. Ini adalah langkah konkret dalam menghadapi fluktuasi harga komoditas aluminium yang cenderung lebih tinggi dibanding baja dalam beberapa tahun terakhir. Dengan perencanaan yang presisi, sistem mounting ini memberikan kepastian biaya dan keamanan operasional bagi investasi energi terbarukan Anda di Indonesia.

FAQ

Berapa besar kontribusi biaya mounting terhadap total investasi PLTS di Indonesia?

Berdasarkan data IESR (2024), komponen perangkat keras sistem pendukung termasuk mounting menyumbang sekitar 20% hingga 32% dari total biaya instalasi. Sementara itu, data IRENA (2023) menyebutkan bahwa biaya Balance of System (BOS) non-inverter rata-rata mencapai 19% dari total biaya CAPEX proyek skala utilitas di pasar global dan domestik.

Mengapa pemilihan modul surya efisiensi tinggi dapat mengurangi biaya struktur?

Modul surya dengan tingkat efisiensi di atas 20% mampu menghasilkan daya yang sama dengan jumlah panel yang lebih sedikit. Hal ini secara otomatis mengurangi kebutuhan luas area pemasangan serta volume material aluminium dan profil baja, sehingga mampu menekan biaya struktur penyangga sebesar 8% hingga 10% menurut riset dari BRIN (2024).

Bagaimana status TKDN untuk produk mounting di pasar lokal saat ini?

Produk struktur penyangga modul surya di Indonesia memiliki capaian TKDN yang sangat tinggi, dengan rata-rata 69,23% dan nilai tertinggi mencapai 71,74% pada tahun 2024. Hal ini menjadikan mounting sebagai komponen dengan kesiapan industri dalam negeri paling mapan untuk mendukung proyek-proyek berbasis regulasi pemerintah maupun PLN.

Apa perbedaan utama antara biaya mounting di darat dan di perairan?

Struktur penyangga untuk PLTS Terapung (Floating PV) memiliki kompleksitas lebih tinggi karena membutuhkan material pengapung (floater) dan sistem penjangkaran (mooring). Laporan World Bank (2024) mencatat bahwa biaya struktur untuk sistem terapung sekitar $10 sen/Wp lebih mahal jika dibandingkan dengan sistem pemasangan di tanah (ground-mounted).

Material manakah yang lebih tahan korosi untuk wilayah tropis Indonesia?

Aluminium AL6005-T5 dan Baja Galvani (Hot-Dip Galvanized) adalah standar utama untuk ketahanan korosi. Meskipun material aluminium mengalami kenaikan indeks biaya IHPB yang signifikan pada tahun 2026, material ini tetap menjadi pilihan utama untuk PLTS Atap karena bobotnya yang ringan dan perlindungan karat alami yang superior tanpa memerlukan perawatan intensif.

—
Hubungi tim Suryaqua untuk konsultasi gratis, survey lokasi, dan penawaran resmi:
WhatsApp: +62 811-831-333 (wa.me/62811831333)
Website: suryaqua.com
Email: marketing@suryaqua.com
Alamat: Pergudangan Tanrise B25, Jalan Sruni, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
—

Catatan: Harga dan data dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Untuk penawaran resmi dan informasi terkini, silakan hubungi tim Suryaqua langsung via WhatsApp +62 811-831-333 atau kunjungi suryaqua.com.

Baca Juga : Alasan Panel Surya Sertifikasi Tier 1 Lebih Bernilai untuk Pompa Air

Referensi

  1. Kementerian Perindustrian RI. “Capaian TKDN Industri Elektronika dan Telematika (Analisis Komponen PLTS).” 2024. [https://tkdn.kemenperin.go.id/]
  2. IESR (Institute for Essential Services Reform). “Indonesia Solar Energy Outlook 2025: Pemetaan Peluang Pengembangan Industri Komponen PLTS di Indonesia.” 2024. [https://iesr.or.id/pustaka]
  3. IRENA (International Renewable Energy Agency). “Renewable Power Generation Costs in 2023.” 2024. [https://www.irena.org/publications/2024/Sep/Renewable-power-generation-costs-in-2023]
  4. Badan Pusat Statistik (BPS). “Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Bahan Bangunan/Konstruksi 2024-2026.” 2026. [https://www.bps.go.id]
  5. Kementerian ESDM (DJEBTKE). “Perkembangan Investasi dan Harga PLTS Atap di Indonesia.” 2024. [https://ebtke.esdm.go.id]
  6. World Bank & SERIS. “Where Sun Meets Water: Floating Solar Market Report.” 2024. [https://documents.worldbank.org/en/publication/documents-reports/documentdetail/362141551108170841/where-sun-meets-water-floating-solar-market-report]
  7. BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). “Analisis Teknologi Sel Surya Generasi Baru dan Dampaknya pada Efisiensi Struktur Penyangga.” 2024. [https://brin.go.id]

abd -y

Sebagai perusahaan yang mendukung penghematan energi, maka Kami menawarkan solusi kepada anda yang memiliki tagihan listrik sampai jutaan rupiah terkait penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Ada banyak Paket PLTS untuk Rumah yang dapat anda pilih sesuai dengan kebutuhan.

MORE ABOUT US