PLTS Ground Mounted: Solusi Skala Besar Energi Terbarukan Indonesia

Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar dalam menyelaraskan antara ketersediaan sumber daya alam yang melimpah dengan realisasi pemanfaatannya. Salah satu solusi yang mulai banyak dibahas adalah pemanfaatan Lahan Marjinal untuk energi surya. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM (2024), potensi total energi surya di Indonesia mencapai angka yang sangat masif, yakni 3.294 GW. Namun, angka tersebut berbanding terbalik dengan kontribusi energi surya terhadap total bauran produksi listrik nasional yang hingga saat ini masih tertahan di rentang 0,2% hingga 0,5% saja. Kesenjangan ini menunjukkan adanya ruang pertumbuhan yang sangat luas. Selain itu, hal ini juga memperlihatkan urgensi bagi para pemangku kepentingan untuk mempercepat adopsi teknologi yang mampu menangkap energi matahari dalam skala besar.

Kebutuhan Mendesak Transisi Energi Nasional

Kebutuhan untuk beralih ke energi bersih bukan lagi sekadar tren lingkungan, melainkan kewajiban strategis negara. Hingga akhir tahun 2023, kapasitas terpasang kumulatif Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia baru mencapai 573,8 MW menurut laporan Kementerian ESDM (2024). Angka ini masih jauh dari target ambisius yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Dalam dokumen tersebut, PT PLN (Persero) menetapkan target penambahan kapasitas PLTS sebesar 4,68 GW. Target ini diperlukan untuk mengejar ketertinggalan dan memperkuat kemandirian energi nasional.

Sektor industri dan komersial kini dituntut untuk mulai mempertimbangkan [LINK INTERNAL: informasi mengenai manfaat energi surya untuk sektor industri] guna menurunkan emisi karbon dan mencapai efisiensi operasional jangka panjang. Tanpa adanya percepatan pembangunan infrastruktur energi surya, Indonesia berisiko tertinggal dalam peta transisi energi global yang semakin kompetitif. Karena itu, pengembangan proyek skala besar menjadi kunci untuk mencapai skala ekonomi yang lebih baik. Dengan skala ekonomi yang baik, biaya listrik per kilowatt-hour (kWh) dapat ditekan menjadi lebih kompetitif dibandingkan sumber energi fosil.

Apa itu PLTS Ground Mounted dan Mengapa Trennya Meningkat?

PLTS ground-mounted adalah sistem pembangkit listrik tenaga surya yang modul atau panel suryanya dipasang langsung di atas permukaan tanah menggunakan struktur penyangga logam yang kokoh. Berbeda dengan sistem yang dipasang di atap (rooftop), sistem ini biasanya dirancang untuk kapasitas yang jauh lebih besar. Dalam hal ini, kapasitasnya mulai dari skala megawatt hingga ratusan megawatt, yang sering disebut sebagai skala utilitas.

Pergeseran Fokus Akibat Regulasi Terbaru

Tren pengembangan PLTS di Indonesia sedang mengalami pergeseran arah yang cukup signifikan. Direvisinya regulasi melalui Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 menjadi faktor pendorong utama. Peraturan ini menghapus sistem ekspor-impor listrik (net-metering) bagi pelanggan PLTS Atap. Oleh karena itu, kebijakan baru ini secara otomatis mengubah perhitungan nilai ekonomis bagi pengguna retail dan industri kecil. Kondisi ini diprediksi akan mengalihkan minat investor dan pengembang dari skala retail ke proyek PLTS ground-mounted skala besar. Proyek-proyek ini akan dilakukan melalui skema pengadaan resmi dari PLN.

Selain regulasi mengenai penggunaan atap, kebijakan harga terbaru juga memberikan angin segar bagi sektor ini. Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2022 telah memberikan kepastian harga pembelian tenaga listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) oleh PLN. Dengan adanya kepastian harga ini, risiko finansial bagi investor menjadi lebih terukur. Akhirnya, kebijakan ini mendorong percepatan tender proyek PLTS skala besar di berbagai wilayah di Indonesia.

Optimalisasi Lahan Marjinal dan Bekas Tambang

Salah satu keunggulan utama dari PLTS ground-mounted adalah kemampuannya memanfaatkan lahan yang tidak produktif atau lahan marjinal. IESR (2023) mencatat adanya potensi teknis PLTS yang sangat besar di lahan bekas tambang, khususnya di wilayah Bangka Belitung yang mencapai 12,5 GW. Strategi mengalihfungsikan lahan pascatambang menjadi kawasan energi bersih tidak hanya membantu meminimalkan konflik kepemilikan lahan, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi pada lahan yang sebelumnya dianggap rusak atau tidak bernilai. Untuk proyek sebesar ini, biasanya diperlukan [LINK INTERNAL: layanan jasa konsultasi sistem PLTS] yang mendalam. Hal ini penting agar integrasi ke jaringan listrik utama berjalan stabil.

Baca Juga :  Meningkatkan Efisiensi Irigasi Kebun Terong dengan Solusi Pompa Tenaga Surya

Perbandingan PLTS Ground Mounted vs PLTS Atap

Memahami perbedaan antara sistem yang dipasang di tanah dengan sistem di atap sangat penting bagi pengembang dalam menentukan strategi investasi. Dari sisi biaya investasi atau Capex, PLTS ground-mounted menawarkan efisiensi yang lebih tinggi untuk proyek kapasitas besar. Menurut data dari IESR (2023), estimasi biaya investasi PLTS ground-mounted di Indonesia berkisar antara USD 650 hingga 950 per kWp. Biaya ini cenderung lebih kompetitif dibandingkan sistem atap yang memiliki kompleksitas pemasangan pada struktur bangunan yang sudah ada.

Berikut adalah tabel perbandingan teknis dan komersial antara kedua sistem tersebut:

Fitur Perbandingan PLTS Ground Mounted PLTS Atap (Rooftop)
Skala Kapasitas Skala Utilitas (Mega Watt hingga Giga Watt) Skala Kecil hingga Menengah (Kilo Watt)
Estimasi Capex (per kWp) USD 650 – 950 (Lebih Ekonomis) Cenderung Lebih Tinggi karena Kompleksitas Struktur
Lokasi Pemasangan Lahan Terbuka, Lahan Bekas Tambang, Lahan Marjinal Atap Gedung, Pabrik, atau Perumahan
Kemudahan Maintenance Sangat Mudah (Akses Terbuka bagi Teknisi) Terbatas (Tergantung Ketinggian dan Keamanan Atap)
Orientasi Panel Dapat Dioptimalkan Sesuai Sudut Datang Matahari Terbatas pada Kemiringan dan Arah Hadap Atap
Regulasi Terkait Perpres 112/2022 & Skema Tender PLN Permen ESDM No. 2/2024 (Tanpa Net-Metering)

Selain aspek biaya, fleksibilitas dalam menentukan orientasi panel menjadi faktor kunci efisiensi PLTS ground-mounted. Pada sistem atap, efisiensi seringkali terhambat oleh bayangan gedung sekitar (shading) atau arah atap yang tidak ideal. Sementara pada lahan terbuka, struktur penyangga dapat diatur sedemikian rupa untuk menangkap radiasi matahari secara maksimal sepanjang hari.

LORENTZ sebagai Solusi Sistem Energi Surya

Dalam ekosistem energi surya, keandalan teknologi menjadi pondasi utama keberhasilan proyek jangka panjang. Implementasi sistem energi yang tangguh telah terbukti pada berbagai proyek strategis di Indonesia. Sebagai contoh, PLTS Likupang di Minahasa Utara menjadi salah satu referensi proyek ground-mounted terbesar yang telah beroperasi dengan kapasitas 15 MWp menurut data Kementerian ESDM (2023). Selain itu, proyek masa depan seperti PLTS IKN (Ibu Kota Nusantara) ditargetkan memiliki kapasitas ground-mounted total sebesar 50 MW untuk mendukung kebutuhan energi bersih di ibu kota baru, sebagaimana dilaporkan oleh PLN (2024).

Teknologi LORENTZ memainkan peran krusial dalam mendukung ekosistem energi ini, terutama dalam integrasi sistem manajemen daya dan solusi pemompaan air bertenaga surya untuk berbagai kebutuhan industri dan perkebunan di sekitar area PLTS. Keunggulan teknologi ini terletak pada efisiensi tinggi dalam mengubah energi fotovoltaik menjadi kerja mekanik atau daya listrik yang stabil, yang sangat dibutuhkan oleh pengembang proyek skala besar untuk memastikan return on investment (ROI) yang cepat.

Salah satu tantangan dalam proyek skala besar adalah pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Melalui regulasi terbaru Kementerian Perindustrian (Permenperin No. 34 Tahun 2024), terdapat relaksasi ambang batas TKDN untuk proyek strategis nasional. Hal ini memberikan peluang bagi pengembang untuk mengintegrasikan teknologi global yang sudah teruji seperti [rekomendasi dari yoast : katalog produk pompa air tenaga surya LORENTZ] ke dalam sistem mereka. Di samping itu, pengembang tetap dapat menyelaraskan dengan syarat pendanaan internasional seperti Just Energy Transition Partnership (JETP).

Baca Juga :  Cara instalasi pompa tenaga surya efisien

Dengan dukungan teknologi yang andal dan pemanfaatan regulasi yang tepat, PLTS ground-mounted bukan hanya sekadar sarana pembangkit listrik, tetapi merupakan pilar utama dalam transformasi ekonomi hijau Indonesia. Pemanfaatan lahan bekas tambang dan area marjinal dengan sistem yang memiliki durabilitas tinggi akan memastikan bahwa target net-zero emission bukan sekadar visi. Namun, hal itu dapat menjadi realitas yang dapat dicapai dalam dekade ini.

 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu PLTS ground mounted dan apa bedanya dengan PLTS atap?

PLTS ground mounted adalah sistem pembangkit listrik tenaga surya yang panelnya dipasang langsung di permukaan tanah menggunakan struktur penyangga logam yang kokoh. Perbedaan utamanya terletak pada lokasi pemasangan dan skalanya. Biasanya sistem ini digunakan untuk proyek skala besar atau utilitas (Mega Watt). Selain itu, PLTS ground mounted memiliki efisiensi biaya investasi (Capex) yang lebih kompetitif dibandingkan sistem atap yang terbatas pada luas gedung.

Berapa biaya investasi yang dibutuhkan untuk membangun PLTS ground mounted di Indonesia?

Berdasarkan data dari IESR (2023), estimasi biaya investasi untuk PLTS ground mounted di Indonesia berada di kisaran USD 650 hingga 950 per kWp. Biaya ini cenderung lebih ekonomis untuk proyek berkapasitas besar. Hal ini karena proyek besar mampu mencapai skala ekonomi yang lebih baik, kemudahan dalam pemeliharaan rutin, serta struktur pemasangan yang tidak sekompleks sistem di atas atap bangunan.

Mengapa lahan bekas tambang dianggap potensial untuk lokasi PLTS ground mounted?

Lahan bekas tambang merupakan solusi strategis untuk mengatasi keterbatasan lahan produktif dan meminimalkan konflik kepemilikan lahan. Potensi teknis di lahan pascatambang sangat besar, contohnya di Bangka Belitung yang mencapai 12,5 GW. Mengalihfungsikan area marjinal ini menjadi kawasan energi bersih memberikan nilai tambah ekonomi pada lahan yang sebelumnya tidak produktif. Selain itu, langkah ini juga mendukung target net-zero emission nasional.

Bagaimana regulasi terbaru memengaruhi pengembangan PLTS skala besar di Indonesia?

Regulasi terbaru seperti Perpres No. 112 Tahun 2022 memberikan kepastian harga pembelian tenaga listrik EBT oleh PLN, yang secara signifikan menurunkan risiko finansial bagi investor. Selain itu, revisi Permen ESDM No. 2 Tahun 2024 yang menghapus sistem net-metering pada PLTS Atap mendorong pergeseran fokus pengembang dari sektor retail ke proyek ground mounted skala utilitas. Skala utilitas lebih stabil secara regulasi dan komersial.

Apakah proyek PLTS ground mounted harus memenuhi kriteria TKDN tertentu?

Ya, pengembang harus memperhatikan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sesuai aturan Kementerian Perindustrian. Namun, melalui Permenperin No. 34 Tahun 2024, terdapat relaksasi ambang batas TKDN untuk proyek strategis nasional. Hal ini memungkinkan pengembang menggunakan teknologi global yang efisien dan andal, seperti produk LORENTZ, untuk memastikan stabilitas sistem dan memenuhi persyaratan pendanaan internasional.

Hubungi tim Suryaqua untuk konsultasi gratis, survey lokasi, dan penawaran resmi:
WhatsApp: +62 811-831-333 (wa.me/62811831333)
Website: suryaqua.com
Email: marketing@suryaqua.com
Alamat: Pergudangan Tanrise B25, Jalan Sruni, Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia
y-els

Sebagai perusahaan yang mendukung penghematan energi, maka Kami menawarkan solusi kepada anda yang memiliki tagihan listrik sampai jutaan rupiah terkait penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Ada banyak Paket PLTS untuk Rumah yang dapat anda pilih sesuai dengan kebutuhan.

MORE ABOUT US