Bagi para pelaku usaha logistik, transportasi umum, hingga sektor pertanian, memantau harga Solar subsidi adalah hal yang sangat krusial. Solar atau yang kini lebih dikenal dengan nama Biosolar (B35) merupakan urat nadi bagi penggerak ekonomi di Indonesia. Karena statusnya yang disubsidi oleh pemerintah, harga bahan bakar jenis ini relatif jauh lebih terjangkau dibandingkan dengan jenis solar non-subsidi seperti Dexlite atau Pertamina Dex.
Memasuki periode tahun 2026, pemerintah terus berkomitmen menjaga stabilitas harga energi untuk sektor-sektor tertentu. Mari kita bedah lebih dalam mengenai rincian harganya secara lengkap.
Daftar Harga Solar Subsidi di Berbagai Wilayah
Hingga saat ini, penetapan harga Solar subsidi bersifat nasional. Artinya, harga yang dipatok oleh pemerintah melalui Pertamina cenderung seragam di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Berikut adalah detail harganya:
Biosolar (B35): Rp6.800 per liter.
Meskipun harganya dipatok tetap, biaya Biosolar per liter ini hanya dapat diakses oleh konsumen yang memenuhi kriteria tertentu. Penggunaan sistem QR Code melalui aplikasi MyPertamina kini menjadi syarat wajib guna memastikan distribusi subsidi tepat sasaran dan tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berhak.
Aturan Pembelian dan Kuota Solar Subsidi
Selain mengetahui harga Solar subsidi, penting bagi Anda untuk memahami batas kuota pembelian harian. Aturan ini diterapkan agar ketersediaan stok di SPBU tetap terjaga sepanjang tahun.
Kendaraan Pribadi Roda Empat
Kendaraan pribadi umumnya memiliki kuota sekitar 40 liter per hari. Hal ini bertujuan agar penggunaan bahan bakar subsidi lebih merata bagi masyarakat luas.
Kendaraan Umum dan Logistik
Untuk angkutan umum roda empat dan kendaraan angkutan barang, kuota yang diberikan lebih besar, yakni berkisar antara 60 hingga 200 liter per hari tergantung pada jenis dan jumlah roda kendaraan tersebut.
Mengapa Harga Solar Subsidi Bisa Bertahan Murah?
Alasan utama mengapa harga Solar subsidi tetap berada di angka Rp6.800 per liter adalah adanya intervensi dana APBN. Pemerintah menanggung selisih antara harga pasar minyak dunia dengan harga jual di masyarakat. Namun, ketergantungan yang tinggi pada subsidi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan energi nasional, terutama saat harga minyak dunia sedang melonjak tajam.
Langkah efisiensi energi pun mulai digalakkan, termasuk pencampuran bahan bakar nabati (FAME) yang kini mencapai 35% (B35), guna mengurangi beban impor minyak mentah dan menjaga biaya Biosolar per liter tetap stabil bagi rakyat.
Kesimpulan
Saat ini, harga Solar subsidi masih bertahan di angka Rp6.800 per liter di seluruh SPBU Pertamina. Konsistensi harga ini sangat membantu dalam menjaga biaya operasional logistik agar tetap rendah. Namun, mengingat adanya kuota harian dan aturan QR Code yang ketat, para pelaku usaha disarankan untuk mulai melirik alternatif energi yang lebih mandiri dan tidak bergantung pada pasokan bahan bakar fosil yang terbatas.
Hemat Biaya dengan Pompa Surya dan Energi Terbarukan
Kenaikan biaya operasional akibat pembatasan bahan bakar fosil kini memiliki solusi nyata. Bagi Anda di sektor pertanian atau industri yang membutuhkan pasokan air dan listrik kontinu, beralih ke Pompa Surya adalah langkah investasi terbaik. Dengan energi matahari yang melimpah di Indonesia, Anda bisa memutus ketergantungan pada solar dan listrik konvensional selamanya.
Konsultasikan kebutuhan energi hijau Anda sekarang:
- Konsultasi Resmi: +62 811-8112-828
- Website Resmi: www.suryaqua.com
Baca juga halaman terkait: https://suryaqua.com/2026/04/17/harga-bbm-terbaru-di-indonesia-hari-ini-2026/
sty-y

Sebagai perusahaan yang mendukung penghematan energi, maka Kami menawarkan solusi kepada anda yang memiliki tagihan listrik sampai jutaan rupiah terkait penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Ada banyak Paket PLTS untuk Rumah yang dapat anda pilih sesuai dengan kebutuhan.
MORE ABOUT US